• Breaking News

    Tabik pun! SMF-ACT Buka Dapur Umum, Korban Tsunami pun Tersenyum

    Waka PKBL PT SMF Wicaksono Nugroho, Kacab ACT Lampung Dian Eka Darma Wahyuni SP dan wakil JFH Lampung beramah tamah dengan pengungsi dan relawan di Dapur Umum ACT, Dusun 4 Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Jum'at (22/2/2019) pagi. Foto: Hermawan WS | ACT Lampung

    Lampung Selatan, Kejarfakta.com - Aksi Cepat Tanggap (ACT), lembaga relawan kemanusiaan ternama, kembali dipercaya jadi mitra penyaluran bantuan logistik bagi korban penyintas bencana tsunami pascaerupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) Selat Sunda di Lampung Selatan (Lamsel). 

    Kali ini ACT Lampung digandeng oleh PT Sarana Multigriya Finansial (SMF),  Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah Kementerian Keuangan, untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan dari program CSR BUMN tersebut, melalui Dapur Umum ACT Lampung di titik lokasi konsolidasi tanggap darurat bencana ACT di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lamsel.

    Di tempat itu, Jum'at (22/2/19) pagi, 
    Wakil Ketua Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) PT SMF (Persero), Wicaksono Nugroho didampingi oleh Kepala Cabang ACT Lampung Dian Eka Darma Wahyuni SP meninjau langsung, berdialog hangat dengan warga pengungsi dan relawan.

    Di dapur umum yang telah beraktivitas 2 bulan itu hadir pula sejumlah jurnalis relawan bencana tergabung Journalist For Humanity (JHF) Lampung.

    Membuka perbincangan dengan salam "Tabik pun", Wicaksono menyampaikan maksud kedatangannya, ingin melihat langsung kondisi dan kesiapan dapur umum yang disiapkan oleh tim ACT. 

    SMF hadir di tengah masyarakat Lampung dengan fasilitasi penyediaan bantuan tanggap darurat dapur umum berupa pemenuhan kebutuhan makanan pokok warga penyintas, sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada lingkungan sekitar.

    “Kami sangat memahami, banyak keperluan yang dibutuhkan masyarakat yang terdampak bencana. Kami berharap bantuan ini dapat semakin meringankan beban saudara-saudara kami di Lampung. Kami ikut merasakan duka masyarakat Lampung yang terdampak akibat bencana tsunami beberapa waktu lalu,“ kata dia.


    Kepul asap Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, meningkahi ufuk barat lembayung senja, gelayuti malam takzim mereka, yang luka, hilang, dan mati, para penyintasnya usai tsunami pascaerupsi. Foto dibidik dari bibir pantai Desa Way Muli, Rajabasa, Lampung Selatan, Jum'at (4/1/2019). Foto: Muzzamil

    Diketahui, seiring percepatan program pemulihan sosial dan pembangunan kembali pascatsunami yang ditaja pemerintah, dampak langsung tsunami 22 Desember 2018 masih dirasakan ratusan warga penyintas yang per kini masih bertahan di tenda pengungsian.

    Pada ramah tamah itu, Kepala Cabang ACT Lampung Dian Eka Darma Wahyuni menjelaskan, kunjungan perwakilan SMF merupakan bentuk kepedulian mitra korporat ACT atas permasalahan sosial dan kemanusiaan yang terjadi di Lampung khususnya wilayah terdampak tsunami.

    Saban hari, dapur umum menyalurkan ratusan makanan pada warga korban penerima manfaat. Menariknya, warga yang tak terdampak langsung tsunami, dilibatkan sebagai relawan juru masak. 

    “Dapur umum ini terus melayani kebutuhan makanan penyintas tsunami Lampung Selatan, setiap harinya mereka menyantap sepaket nasi, lauk dan sayur. Terimakasih atas kepedulian PT SMF terhadap warga terdampak di sini,” jelasnya.

    Uniroh, salah satu warga relawan, mengaku senang bisa membantu warga terdampak tsunami setempat. “Setiap hari kami memasak ratusan paket makanan. Setelah selesai urusan rumah kami langsung ke dapur ini. Rasanya senang sekali bisa membantu menyiapkan makanan,” kepada tim ACT, kemarin dia mengatakan, sambil tangannya cekatan mengiris bawang merah bumbu masak ayam kecap, di tengah riuh dapur umum antara tenda pengungsi dan hunian sementara itu.

    Menjadi kegembiraan bagi relawan, imbuh dia, bisa bergotong royong membantu memasak, dan warga juga cukup terbantu hadirnya dapur umum. Dimana, per hari di dapur umum itu 10 relawan menyiapkan makanan, sedang pengungsi menyiapkan nasi kotaknya.

    “Alhamdulillah, tanggapan warga merasa senang, ada yang masih sakit tidak bisa bantu di dapur, sehingga merasa terbantu, nggak ada masalah setiap hari kami memasak,” kata Uniroh. [red/mzl/act]

    No comments

    Post Top Ad