• Breaking News

    Forum Mahasiswa dan Pemuda Cinta NKRI Gelar Diskusi, Memastikan Partisipasi Pemilih Pemula dalam Pemilu Damai 2019


    Jakarta, Kejarfakta.com -- Pada pemilu 2019 persentase pemilih pemula ada sebesar 8,10 persen. Untuk itu KPU berusaha bagaimana semua pemilih pemula bisa menggunakan hak pilihnya atau suaranya pada pemilu tanggal 17 April 2019.

    Langkah yang sedangkan dilakukan oleh KPU sendiri adalah anti hoaks,  anti sara dan anti politik uang. KPU juga menambahkan bahwa peran pemilih pemula itu harusnya mengawal regulasi terkait pemilu, memastikan pendataan pemilih, mengawal kampanye damai dan memastikan datang ke TPS dan mencoblos pada tanggal 17 April 2019.

    Wahyu mengatakan, bahwa pemerintah sudah sangat baik dalam melakukan persiapan pemilu 2019, bahkan di era pemerintahan Presiden Jokowi-Jk ini menjalankan demokrasi yang sangat baik. Ia juga mengajak seluruh elemen, masyarakat, pemuda, mahasiswa terutama kaum Millennial untuk sama-sama mengsukseskan pemilu 2019.

    Untuk pertama kalinya indonesia menorehkan tinta emas di dunia demokrasi dimana untuk yang pertama-kalinya pemilihan DPD, DPRD, DPRD Provinsi, DPR RI dan Pilpres bersamaan.

    Selain mengurangi anggaran yang digunakan, pemilu serentak ini bertujuan untuk mengurangi kecurangan pemilu terjadi karena fokus para caleg akan terbagi, selain untuk mendulang suara pribadi dia juga berusaha mengkampayenkan capres dan cawapresnya.

    Sedangkan menurut Alfarisi Thalib, bahwa jumlah pemilih pemilu sekitar 79 juta atau 40 persen dari jumlah pemilih pada pemilu 2019. Dan angka golput kaum pemuda itu ada sekitar 30 persen. Dari jumlah DPT 79 juta pemilih pemula itu 86 persen masih golput. 

    Alasan mengapa masih banyak pemilih pemula golput, kondisi millennial yang dinamis,  pandangan politik banyak berubah, cenderung skipisme dan apatisme, menganggap politik tidak menarik dan karena pengaruh dari politik yang kurang baik.

    Maka dari itu kita harus sama-sama mengajak kaum millennial untuk ambil bagian dalam mengsukseskan pemilu pada 17 April 2019 nanti, tentu mengajak kaum millennial dan memastikan partisipasi nya. Pemilih pemula pada 2019 nanti akan membuat berjalannya pesta akan lebih baik dan dinikmati oleh seluruh rakyat indonesia, semua itu tidak lepas dari kerja keras pemerintah Jokowi-JK.

    Karena di era pemerintahan Jokowi-JK inilah kita merasakan bagaimana nikmatnya kontestasi pemilu, karena keberhasilan pada pilkada serentak pada tahun 2016 lalu, telah memberikan kita warna baru dalam demokrasi yang terbukti bisa sedikit mengurangi tingkat kecurangan pada pilkada yang telah diselenggarakan.

    Sedangkan menurut Ahmed S Anwar Sekjen GPII, kaum millennial itu posisinya harus lebih strategis bukan hanya dilibatkan saat kontekstasi politik saja, tapi pemuda harus berdiri independen untuk benar-benar mengawal demokrasi pada pemilu itu berjalan sesuai dengan yang diharapkan. "Karena pemuda dan kaum millennial adalah pemilih yang cendrung idealis dan suara millenial ini harus menjadi suara yg memastikan bangsa akan lebih baik ke depannya," ujarnya. 

    Realitas hari ini yang mengerogoti kaum pemilih pemula adalah rawan di politisasi,  rawan di pengaruhi dan dimobilisasi, labilitas dan emosional,  sasaran politik yang transaksional dan belum memiliki pengalaman dalam pemilu.

    Jadi sebagai orang yang sadar politik kita harus memberikan edukasi dan sosialisasi kepada pemilih pemuda betapa pentingnya menggunakan hak pilihnya pada pemilu 2019, dikarena satu suara millennial akan sangat menentukan masa depan bangsa.

    "Saya mengapresiasi langkah yang telah dilakukan oleh pemerintah saat ini, dengan cekatan dan cepat coba menuntaskan maslah tentang pemilih pemula.  Dimana melalui dinasdukcapil dan dinas lain telah melakukan verifikasi data pemilu pemula dan pemerintah telah berusaha dengan semaksimal nya memastikan agar semua pemilih pemula pada tanggal 17 April 2019 bisa menggunakan hak suaranya," ungkapnya. (FH/red)

    No comments

    Post Top Ad