• Breaking News

    Hadapi Pemilu Penuh Keceriaan, Bukan Dengan Kebencian

    Ketua DPR RI Bambang Soesatyo saat sambutan dalam pertemuan Forum Silaturahmi Anak Bangsa bertema "Pemilu Mempersatukan Bangsa", di Jakarta, Kamis (28/3/2019). Foto: Istimewa

    Jakarta, Kejarfakta.com - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menggugah kesadaran semua pihak agar pelaksanaan Pemilu 2019 jangan sampai membuat luka baru di masyarakat. Dari kunjungan ke berbagai daerah, banyak rakyat mengeluh lantaran lelah melihat pertikaian elit politik di televisi maupun di media sosial. Pemilu yang harusnya dihadapi dengan adu ide dan gagasan, malah diwarnai berbagai hujatan.

    "Dengan mengedepankan rasa persaudaraan sebangsa, Forum Silaturahmi Anak Bangsa berhasil menutup dan menyembuhkan berbagai luka yang terjadi di awal-awal masa kemerdekaan. Jangan sampai jelang 74 Tahun Kemerdekaan Indonesia, kita justru membuat dan mewarisi luka baru akibat Pemilu 2019," ujar Bamsoet, sapaannya, saat membuka pertemuan Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) bertema 'Pemilu Mempersatukan Bangsa' di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (28/03/2019).

    Selain Ketua Umum FSAB Suryo Susilo, hadir dalam acara tersebut, para tokoh nasional antara lain Rosan Roeslani (Wakil Ketua TKN Jokowi - KH Maruf Amin), Ahmad Riza Patria (Juru Debat BPN Prabowo Subianto - Sandiaga Uno), komisioner KPU Viryan Azis, anggota Wantimpres Sidarto Danusubroto, serta Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Sudarmo.

    Hadir pula, Sarjono Kartosoewirjo (putera SM Kartosoewirjo), Ilham Aidit (putera DN Aidit), Catherine Pandjaitan (puteri Pahlawan Revolusi Mayjen TNI Anumerta DI Pandjaitan), mantan Ketum Pemuda Panca Marga Djoko Purwongemboro, dan Koordinator Tim Advokasi Korban '65, Witaryono Reksoprodjo.

    Legislator Dapil VII Jawa Tengah (Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen) ini mengingatkan menjelang hari pencoblosan 17 April, fenomena saling serang, fitnah, berita bohong (hoax) serta ujaran kebencian masih terus didengungkan pihak tak bertanggungjawab. 

    Ironisnya, banyak masyarakat yang memercayai serta tak sadar kondisi gaduh seperti itu berpotensi besar memecah belah bangsa Indonesia.
    "Pemilu tinggal 20 hari lagi. Elit politik dan tim kampanye capres-cawapres harus memastikan para pendukungnya menggunakan cara-cara bijaksana dalam berkampanye. Mari hadapi Pemilu ini dengan penuh keceriaan, bukan dengan kebencian," pesan dia.

    Mewujudkan integrasi nasional bukan hal mudah, imbuh Waketum Pemuda Pancasila itu. Karenanya, semua pihak harus mampu melepaskan ego maupun identitas dasarnya demi satu tujuan, yakni kejayaan Indonesia.

    "Integrasi nasional yang akan menentukan eksistensi bangsa harus dipertahankan. Alangkah mirisnya jika integrasi yang dengan susah payah diwujudkan, harus tercerai berai akibat satu hal saja, seperti pemilu misalnya," tegas Bamsoet. 

    Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini juga mengimbau masyarakat agar tak terlalu larut dalam akrobat politik yang dijalankan para elit politik. Karena pasca Pemilu 2019, tak menutup kemungkinan para elit yang tadinya berseberangan, justru akan bergabung dalam satu barisan. Jangan sampai justru di akar rumput, rakyat masih terjebak dalam kubangan kebencian akibat 'sampah' kampanye yang tidak mencerdaskan.

    "Kita sedang berdemokrasi yang mengedepankan rasionalitas. Bukan sedang "bercinta", karena itu tak usah terlalu dibawa ke perasaan. Pilihlah pasangan yang dirasakan bisa membawa perbaikan, tanpa perlu memusuhi orang lain yang berbeda pilihan," pungkas Bamsoet. [red/rls/Muzzamil]


    No comments

    Post Top Ad