• Breaking News

    Peringati Hari Air Sedunia, ASHBT Kampanye Lingkungan Stop Pembangunan PLTA Batang Toru


    Padang Sidempuan, Kejarfakta.com -- Dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia, Penggiat Lingkungan Pinus Tapanuli, KPA Malaka, KPA Mata Alam, kompel UMTS, Explore Tabagsel, Rata Bumi, Telapak Tapanuli yang mengatasnamakan Aliansi Selamatkan Hutan Batang Toru (ASHBT), melakukan Aksi Kampanye Lingkungan sekaligus pembagian bibit pohon kepada masyarakat pengguna jalan di sekitaran alun-alun Kota Padang Sidempuan.

    Hasil pantauan, ASHBT memulai aksinya di sekitaran alun-alun kota Padang Sidempuan pukul 16.00 WIB, dengan memakai alat peraga kostum Orang Utan dan Topeng Orang Utan sekaligus membagikan bibit pohon coklat dan manggis kepada masyarakat pengguna jalan.

    Andika Daulay sebagai Koordinator Aksi menyampaika, dalam  rangka kegiatan ini kita dari penggiat lingkungan sangat peduli terhadap hutan Batang Toru yang harus di selamatkan dari berbagai Ancaman kejahatan dan kerusakan lingkungan oleh korporasi.

    Kita tidak harus berkampanye lingkungan di daerah yang terdampak, tapi kita mempunyai misi  sebagai penggiat lingkungan mengkampanyekan kelestarian alam dan lingkungan dimanapun kita berpijak.

    “Aksi kampanye dalam rangka memperingati hari air sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Maret 2019 di laksanakan atas konsistensi lembaga lingkungan dalam penyelamatan ekosistem di Bumi Tapanuli khususnya,” kata Andika.


    Dalam orasinya Andika mengatakan, ekosistem Batang Toru merupakan hamparan hutan primer dengan luas 1.400 km persegi diperbatasan Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan.
    Lebih dari 100.000 jiwa menggantungkan kehidupannya pada hutang batang toru. Di hulu sungai Batang Toru terdapat sekitar 1.200 Ha lahan pertanian produktif milik masyarakat dan masyarakat adat.

    Hutan batang toru juga merupakan tempat habitat Orang Utan Tapanuli, rangkong badak dan hewan langka yang di lindungi menurut UU Konservasi nomor  5 Tahun 1990, tentang Keanekaragaman Biodiversiti. Bagaimana tidak, rasa khawatir timbul dan berdampak akibat pembangunan mega proyek PLTA Batang Toru di landscape hutan Batang Toru.

    “Sumber air yang menjadi kebutuhan utama bagi kebutuhan sosial dan ekonomi, Kekayaan alam dan gudang ilmu pengetahuam Batang Toru, keanegaragaman hayati terancam dan akan mengalami kepunahan akibat pembangunan proyek PLTA Batang Toru yang di kerjakan PT. NSHE,” ungkapnya.
    Apalagi lokasi pembangunan Proyek PLTA Batang Toru ini berada dalam garis patahan gempa yang kami khawatirkan pembangunannya menjadi bom waktu dan bencama khususnya bagi masyarakat hilir Batang Toru.

    Hutan Batang Toru ini adalah rimba terkahir yang tersisa dan merupakan harta karun Provinsi Sumatera Utara, maka dari itu, penolakan terhadap perusahaan perusak lingkungan harus di lawan, salah satunya Pembangunan PLTA Batang Toru yang berdampak buruk terhadap keberlangsungan lingkungan dan kehidupan masyarakat, maka pemerintah harus berani mengambil sikap yang tegas untuk segera hentikan Perusahaan perusak lingkungan.

    “Kami mengatasnamakan Aliansi  Selamatkan Hutan Batang Toru menyampaikan ancaman yang ditimbulkan dalam pembangunan PLTA Batang Toru ini, diantaranya terancamnya habitat Orangutan Tapanuli yang sudah ditetapkan menjadi spesies tersendiri, Enggang Badak (Bucheros rhinocores) sebagai identitas daerah Kabupaten Tapanuli Selatan. Air sebagai sumber kehidupan, akibat dampak buka-tutup pengoperasian PLTA Batang Toru nantinya akan berdampak pada ketersediannya di hulu sebagai kebutuhan hidup, pertanian, perikanan serta industri masyarakat,” ungkap Andika.

    Sementara Wirman Nasution koordinator lapangan menambahkan dalam orasinya, untuk diketahui bersama, dalam keputusan Bupati Tapanuli Selatan Nomor 340/KPTS/2013 tentang Penetapan Flora dan Fauna sebagai Identitas daerah Kabupaten Tapanuli Selatan. Tertuang beberapa jenis identitas Kabupaten Tapanuli Selatan, yaitu Flora; Kecombrang/siala sampagul (Eltingera Elatior) dan Fauna; Enggang Badak/Onggang (Bucheros Rhiniceros) ditetapkan di Padang Sidempuan pada tanggal 28 Mei 2013 oleh Bupati Tapanuli Selatan, H. Syahrul M Pasaribu.

    Seharusnya Pemerintah Daerah juga harus dapat memberikan keputusan dan kebijakan yang dapat menyelamatkan bentang alam Hutan Batang Toru. Dengan hadirnya pembangunan PLTA Batang Toru ini, berdampak buruk terhadap ekosistem Batang Toru yang merupakan penyangga kehidupan masyarakat dan sangat bergantung terhadap keberlangsungan kehidupan serta berkelanjutan.

    “Mulai dari pemanfaatan air Sungai Batang Toru, Kearifan Lokal dan sumber daya alam yang melimpah yang dinikmati oleh masyarakat. Jika ekosistem Batang Toru hancur dan rusak, maka bencana akan melanda masyarakat yang berada di daerah hilir Batang Toru,” kata Wirman.


    Sebagai alasan Aliansi Selamatkan Hutan Batang Toru melakukan aksi kampanye menolak Pembangunan PLTA Dalam Momentum Hari Air Sedunia adalah :

    1. Menyampaikan arti penting menjaga Kelestarian Ekosistem air dan sungai Untuk keberlangsungan hidup dan kehidupan Mahluk hidup.

    2. Mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan khususnya dengan tidak membuang sampah dan limbah ke sungai.

    3. Pembangunan PLTA Batang Toru akan mengancam keberlangsungan dan keanekaragaman hayati ekosistem Batang Toru.

    4. Ekosistem Batang Toru merupakan habitat terakhir Orangutan Tapanuli untuk jenis Kera Besar terlangka di Dunia.

    5. Sungai akan putus total: Ekologi Sungai antara hulu dan hilir bendungan akan terpisah total.

    6. Masyarakat yang di prediksikan paling terkena dampak pembangunan dan operasi PLTA Batang Toru adalah sebelah hilir dari Power House.

    7. Lokasi PLTA Batang Toru berada di sesar Besar Sumatera (Great Sumatera Fault) yang terkenal Aktif.

    8. PLTA Batang Toru dibangun tanpa analisis risiko bencana. Dapat diartikan bahwa PT. NSHE tidak mempedulikan bagaimana nanti nasib masyarakat di hilir apabila terjadi bencana.

    9. Dalam kesempatan ini juga kami meminta pemerintah daerah dan Pusat lebih mempertimbangkan pembangunan PLTA Batang Toru, daripada kedepan berdampak buruk bagi tatanan kehidupan dikarenakan lokasi PLTA Batang Toru berada dalam zona gempa.

    Apabila bendungan PLTA Batang Toru jebol akibat gempa atau konstruksi yang buruk, akan terjadi musibah di daerah hilir dengan ribuan korban. Pola Banjir-kering di hilir sungai Batang Toru juga berimplikasi pada perusahaan Tambang Emas PT Agincourt, yang membuang limbahnya ke sungai Batang Toru sebelah hilir dari proyek PLTA Batang Toru.

    PT. Agincourt, membuang limbahnya selama 24 jam setiap hari agar diencerkan air sungai;  apabila selama 18 jam aliran sungai menjadi sangat sedikit, maka proses pengenceran bisa terhambat dan berdampak sangat buruk terhadap ekosistem sungai. (Cing Siregar/Red)

    No comments

    Post Top Ad