BEM UGM Tolak Saran Anies Laporkan Teror Digital ke Polisi, Alasannya Ragu Kinerja Kepolisian RI
KEJARFAKTA.COM - Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mengungkapkan bahwa organisasi mahasiswa itu menolak melaporkan serangkaian teror digital yang menimpa lebih dari 40 pengurusnya, termasuk dirinya, ke kepolisian.
Keputusan ini dipengaruhi oleh ketidakpercayaan terhadap Polri pasca-insiden kekerasan yang menewaskan seorang siswa di Tual oleh anggota Brimob pada 19 Februari 2026.
"Untuk melaporkan ini ke pihak kepolisian, itu juga menjadi satu keraguan bagi kami. Karena baru terjadi kemarin, seorang polisi yang membunuh rakyat Indonesia, membunuh anak bangsa Indonesia," kata Tiyo kepada awak media, Minggu (22/2/2026).
Teror yang dikirim melalui nomor tidak dikenal menimpa Ketua BEM UGM dan lebih dari 40 pengurus lainnya, termasuk orang tua pengurus.
Meski demikian, Tiyo menegaskan dampak fisik maupun psikologis dari serangan ini belum signifikan.
"Karena teror ini masih sebatas digital, sehingga justru kami tidak mau disibukan dengan itu," ujarnya.
Tiyo menambahkan bahwa insiden ini justru memperkuat solidaritas di antara pengurus BEM UGM.
"Justru terima kasih kepada teman-teman yang menyampaikan teror, karena persaudaraan di antara teman-teman BEM UGM semakin solid," imbuhnya.
Meski menolak melapor ke aparat hukum, BEM UGM telah berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), serta pihak UGM terkait rentetan teror yang terjadi.
Tiyo menegaskan, fokus organisasi tetap pada peran mereka sebagai pengkritik pemerintah.
"Kami akan senantiasa melawan, senantiasa akan mengkritik apa yang kami anggap tidak adil dan menindas rakyat," katanya. (rel/tribun)
.png)