Update

Potensi Beda Awal Ramadhan 2026, Ketum MUI: "Jangan Sampai Mengkafirkan, Hormati Perbedaan!"

KEJARFAKTA.COM – Umat Islam di Indonesia diminta untuk bersiap menghadapi potensi perbedaan penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar, menegaskan bahwa perbedaan adalah hal lumrah yang tidak boleh merusak ukhuwah (persaudaraan).

Pesan ini disampaikan Kiai Anwar dalam acara Mukernas I MUI di Jakarta, Kamis (12/2/2026), menanggapi dinamika metode penentuan bulan suci yang kian beragam.

Ijtihad Tak Boleh Memecah Belah

Kiai Anwar menilai perbedaan penetapan awal puasa merupakan bagian dari dinamika ijtihad. Ia mengingatkan bahwa dalam Islam, ijtihad yang benar mendapat dua pahala, sementara yang keliru tetap mendapat satu pahala.

“Yang penting buat umat Islam adalah menjaga ukhuwah Islamiyah dan persatuan. Jangan sampai mengkafirkan sesama Muslim hanya karena perbedaan penetapan tanggal puasa,” tegas Kiai Anwar.

Keputusan Pemerintah sebagai Solusi

Meskipun menghormati ormas yang memiliki metode sendiri, Kiai Anwar menyarankan agar mayoritas umat tetap merujuk pada hasil Sidang Isbat Pemerintah. Menurutnya, dalam konteks bernegara, keputusan pemerintah berfungsi sebagai hakim yang menyatukan perbedaan.

“Keputusan hakim atau keputusan negara itu menghilangkan perbedaan. Kami tetap mengimbau untuk mengikuti pengumuman resmi pemerintah,” tambahnya.

Penyebab Perbedaan

Senada dengan MUI, Direktur Urusan Agama Islam Kemenag, Arsad Hidayat, menjelaskan bahwa perbedaan ini muncul karena adanya keragaman metode, mulai dari Hisab (perhitungan), Rukyatul Hilal (pemantauan fisik), hingga konsep terbaru Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

“Ada perbedaan antara pendekatan hilal lokal dengan hilal global. Kalau menggunakan istilah Prof. Thomas Djamaluddin (BRIN), jika satu menggunakan kriteria lokal dan yang lain global, sudah pasti hasilnya berbeda,” ujar Arsad, Selasa (10/2).

Kemenag dan MUI berharap masyarakat tetap tenang dan fokus pada persiapan ibadah. Perbedaan hari pertama puasa justru menjadi cermin sikap egaliter dan kedewasaan beragama di Indonesia, selama tidak disertai sikap saling menyalahkan.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image