Update
DomaiNesia

Ditolak 3 Kali Gara-gara BPJS Beda Domisili, Seorang Mahasiswa Meninggal di Pintu Masuk Rumah Sakit

KEJARFAKTA.COM - Kematian seorang mahasiswa Universitas Cenderawasih bernama Martina Biri (23) memicu keprihatinan mendalam setelah diduga terlambat mendapatkan penanganan medis di RSUD Yowari, Kabupaten Jayapura.

Pihak keluarga menilai pelayanan rumah sakit lebih mengutamakan administrasi daripada keselamatan pasien.

Menurut keterangan keluarga, peristiwa tragis ini bermula pada 13 Februari 2026. Martina dibawa ke RSUD Yowari karena sakit lambung, namun pihak rumah sakit menolak memberinya perawatan dengan alasan kepesertaan BPJS Kesehatan miliknya terdaftar di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, sehingga berbeda domisili dengan tempat berobat di Sentani.

Keluarga pun terpaksa membawa Martina pulang untuk dirawat di rumah.

Keluarga, melalui Kalu Arman Keroman, menyampaikan kepada wartawan di rumah duka, “Almarhumah yang baru dimakamkan ini sakit sejak bulan Februari. Saat kami bawa ke RSUD Yowari, mereka mengatakan tidak bisa menangani karena BPJS terdaftar di Wamena, sehingga kami bawa pulang.”

Beberapa minggu kemudian, pada 4 Maret 2026, keluarga kembali membawa Martina ke rumah sakit yang sama.

Namun lagi-lagi pasien ditolak dengan alasan serupa. Kondisi Martina terus memburuk hingga 8 Maret 2026, keluarga membawanya ke RSUD Yowari dalam kondisi darurat.

“Meski kami minta segera ditangani, pihak medis tetap menyatakan tidak bisa melayani karena BPJS berbeda domisili. Kami sempat diminta melakukan pemeriksaan darah terlebih dahulu meski kondisi pasien sudah kritis,” ujar Arman Keroman.

Martina meninggal dunia di pintu masuk rumah sakit sebelum sempat ditangani lebih lanjut. Keluarga menilai lambannya penanganan menjadi penyebab utama kematian Martina.

Keluarga korban menegaskan bahwa kasus penolakan pasien bukanlah pertama kali terjadi di RSUD Yowari.

Pada 2025, seorang ibu hamil bernama Irine Sokoy meninggal bersama bayi yang dikandungnya akibat lambannya pelayanan medis di rumah sakit yang sama.

“Kematian anak kami Martina Biri bukan kasus pertama. Untuk itu kami minta agar Direktur RSUD beserta tenaga medis yang bertugas saat itu dipecat karena mengutamakan administrasi daripada kemanusiaan,” tegas Arman Keroman.

Keluarga menuntut perbaikan sistem pelayanan rumah sakit dan menyatakan siap menempuh jalur hukum jika tidak ada tindak lanjut.

Wakil Bupati Jayapura, Haris Richard Yocku, menyampaikan duka cita atas meninggalnya Martina Biri dan berjanji memanggil Direktur RSUD Yowari untuk klarifikasi.

Ia juga menekankan bahwa pemerintah telah menyediakan anggaran dari dana Otsus untuk orang asli Papua agar bisa berobat gratis di RSUD Yowari.

“Kita akan panggil direktur rumah sakit untuk menanyakan mengapa pasien tidak dilayani, padahal ada anggaran khusus untuk orang asli Papua,” ungkap Wakil Bupati. (rel/kompas)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image