
KEJARFAKTA.COM - Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level psikologis Rp17.400 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan awal Selasa (5/5/2026). Pelemahan ini memicu kekhawatiran pasar karena berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan memperberat biaya hidup masyarakat.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah lonjakan harga minyak dunia dan meningkatnya ketegangan geopolitik global. Harga minyak jenis Brent Crude Oil tercatat naik ke kisaran 114,44 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menyentuh 106,42 dolar AS per barel.
Kenaikan tersebut dipicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk ketegangan di sekitar Selat Hormuz serta insiden di wilayah Uni Emirat Arab. Situasi diperburuk oleh konflik di Eropa Timur yang turut mengganggu infrastruktur energi di Rusia.
Analis pasar Ibrahim Assuaibi menilai kombinasi pelemahan rupiah dan mahalnya energi akan berdampak langsung pada kenaikan harga barang impor. Sejumlah komoditas seperti elektronik, kedelai, gandum, hingga bahan industri disebut mulai mengalami kenaikan harga.
Selain itu, tingginya kebutuhan impor energi Indonesia yang mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari turut meningkatkan permintaan dolar AS, sehingga menambah tekanan pada rupiah.
Di tengah situasi ini, stabilisasi nilai tukar menjadi perhatian utama Bank Indonesia. Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan pelemahan rupiah masih dalam batas terkendali dan optimistis penguatan akan terjadi seiring membaiknya fundamental ekonomi nasional.
Namun demikian, gejolak global yang belum mereda membuat pergerakan rupiah ke depan masih dibayangi tekanan, sekaligus meningkatkan risiko inflasi yang dirasakan langsung oleh masyarakat.